MASALAH AHLUL BAIT di KEYAKINAN SYI’AH (Ahmad S) 2

Februari 2, 2010 at 4:28 pm 2 komentar


Lanjutan

Stockholm, 4 Oktober 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr wbr.

MASIH MENGGALI AL-AHZAB 33:28-34 YANG DIPERLUAS DENGAN
HADITS AL-KISA DIHUBUNGKAN DENGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT
Ahmad Sudirman
Stockholm – SWEDIA.

MASIH TETAP MENGGALI AL-AHZAB 33:28-34 YANG DIPERLUAS DENGAN HADITS AL-KISA DIHUBUNGKAN DENGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT.

Tulisan ini merupakan sedikit sambungan dari tulisan “Melihat dibalik Al-Ahzab
33:28-34, Al-Maidah 5:6 dan Hud 11:72-73 dihubungkan dengan maksum dan Ahlul
bait” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/061003b.htm ) yang dipublikasikan pada hari Selasa, 3 Oktober 2006 dan masih tetap menggali Al-Ahzab 33:28-34, tetapi dengan diperluas menggali hadits Al-Kisa, sebutan untuk kain Yaman dalam usaha
untuk memberikan jawaban atas pertanyaan apakah ayat 33 dalam surat Al Ahzab itu adalah dasar kekuatan nash maksumnya ahlul bait?

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan tersebut bahwa

“Yang masuk akal dan logis adalah kalau ahlul bait adalah orang-orang maksum, maka Allah SWT akan berfirman “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dosa kamu ahlul bait dan telah membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”. Tetapi, kenyataannya yang tertuang dalam ayat 33 surat Al-Ahzab tidak demikian bunyinya, melainkan berbunyi

”..sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu, ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al Ahzab, 33: 33).
Sama juga yang tertuang dalam ayat 6 surat Al-Maidah bagi orang beriman yang berwudu “…tetapi Dia berkehendak untuk membersihkan kamu“ (QS Al-Maidah, 5: 6). Jadi kemaksuman dari ahlul bait adalah tidak masuk akal dan tidak logis kalau dihubungkan dan diacukan kepada dasar nash QS Al Ahzab, 33: 33.“ (Ahmad Sudirman, 3 Oktober, 2006)

Sebagaimana juga telah dijelaskan dalam tulisan tersebut bahwa berdasarkan nash ayat 28 sampai 34 surat Al-Ahzab yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat 33 surat Al-Ahzab adalah istri-istri Rasulullah saw yang tali ikatan kekeluargaannya melalui pernikahan.

Nah sekarang, kita mencoba kembali menggali lebih dalam ayat 33 surat Al-Ahzab dihubungkan dengan hadits Al-Kisa agar sedikitnya bisa memberikan gambaran mengenai hubungan antara maksum dan ahlul bait.

Ayat 33 surat Al-Ahzab ini diturunkan kepada Rasulullah saw di rumah Hindun binti Suhail yang dikenal dengan nama Ummu Salamah ra yaitu istri Rasulullah saw.

Dimana saat-saat turunnya ayat 33 surat Al-Ahzab ini diceritakan oleh Ummu
Salamah yang dikenal dengan hadits Al-Kisa. Derajat atau tingkatan hadits Al-Kisa ini adalah sahih. Hadits Al-Kisa ini dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, al-Tirmizi, al-Bazzar, Ibn Jarir al-Thabari, Ibn Hibban, Ibn Abi Hatim, al-Hakim, al-
Thabarani, al-Baihaqi dan al-Hafiz al-Haskani, dengan lafaz al-Tirmizi dan dinilai sahih oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan al-Tirmizi – no: 3787 (Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ahl Bait Nabi).

Bunyi hadits Al-Kisa adalah

”Ummu Salamah radhiallahu anha berkata: Diturunkan ayat ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu wahai Ahl al-Bait dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya di dalam rumah Ummu Salamah. Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil Fatimah, Hasan dan Husein dan menyelimuti mereka dengan kain (Kisa) manakala Ali berada di belakangnya, lalu diselimuti juga dengan kain. Kemudian Nabi berdoa: ”Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku
maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.” Berkata Umm Salamah: ”Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?” Rasulullah menjawab: ”Engkau tetap pada kedudukan engkau dan engkau selalu dalam kebaikan.”

Nah mari kita bersama untuk menelaah sedikit lebih dalam mengenai hadits Al-Kisa ini. Hadits Al-Kisa ini menceritakan situasi dan keadaan ketika ayat 33 surat Al-Ahzab diturunkan kepada Rasulullah saw dirumah Ummu Salamah ra.

Coba kita perhatikan dan analisa secara lebih mendalam tentang situasi dan keadaan Rasulullah saw setelah menerima wahyu ayat 33 surat Al Ahzab itu, yaitu Rasulullah saw memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti mereka dengan Kisa
begitu pula Ali yang berada dibelakangnya diselimuti juga.

Nah, setelah mereka diselimuti dengan Kisa (kain Yaman) oleh Rasulullah saw.

Kemudian Rasulullah saw berdo’a: ”Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.”

Nah disinilah yang menjadi kunci utama untuk membuka tabir ayat 33 surat Al-Ahzab siapakah yang dimaksud ahlul bait itu, apakah mencakup istri-istri Rasulullah saw saja sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al-Ahzab 33: 28-32 atau dimasukkan juga Ali, Fatimah, Hasan dan Husen?

Fakta dan buktinya adalah karena dalam ayat 33 surat Al-Ahzab itu tidak ditujukan langsung bahwa ahlul bait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husen, maka ketika Rasulullah saw mendapat wahyu ayat 33 surat Al-Ahzab mengetahui dengan bimbingan Allah SWT bahwa dalam ahlul bait itu tidak dimasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen, melainkan instri-istri Rasulullah saw saja. Karena itulah mengapa
Rasulullah saw begitu selesai ayat 33 surat Al-Ahzab diturunkan, langsung memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti mereka termasuk Ali dengan Kisa. Kemudian berdo’a yang isi do’anya adalah mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah juga ahlul bait-nya semoga dihilangkan dosa mereka dan dibersihkan sebersih-bersihnya.

Selanjutnya, perhatikan juga apa yang dilakukan oleh Ummu Salamah ra. Ternyata Ummu Salamah ra bertanya kepada Rasulullah saw: ”Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”
Kemudian dijawab oleh Rasulullah saw: ”Engkau tetap pada kedudukan engkau dan engkau selalu dalam kebaikan.”

Nah, mengapa Ummu Salamah ra bertanya kepada Rasulullah saw?

Karena Ummu Salamah ra belum mengetahui isi dari ayat 33 surat Al-Ahzab, disebabkan Rasulullah saw belum membacakannya kehadapan Ummu Salamah ra.

Ketika Rasulullah saw ditanya oleh Ummu Salamah ra tersebut, kemudian Rasulullah saw memberikan jawaban bahwa Ummu Salamah ra tetap pada kedudukannya dan beliau selalu dalam kebaikan.

Nah jawaban Rasulullah saw tersebut merupakan jawaban yang didasarkan pada surat Al-Ahzab 33: 28-32 yang diturunkan sebelumnya, dimana Ummu Salamah ra adalah istri Rasulullah saw yang termasuk dalam ahlul bait. Jadi Ummu Salamah ra adalah memang salah seorang dari ahlul bait. Sedangkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen adalah tidak dimasukkan kedalam ahlul bait, sebelum turunnya ayat 33 surat Al-
Ahzab dan Rasulullah saw memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti mereka juga Ali dengan Kisa dan berdo’a bahwa mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah Ahl al-Bait-nya.

Jadi dengan melalui do’a Rasulullah saw itulah Ali, Fatimah, Hasan dan Husen masuk kedalam ahlul bait bersama istri-istri Rasulullah saw.

Dengan berdasarkan kepada surat Al-Ahzab 33: 28-34 ditambah dengan hadits Al-Kisa yang berisikan do’a Rasulullah saw untuk memasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen kedalam ahlul bait dan memohon Allah SWT menghilangkan dosa dari Ali, Fatimah, Hasan dan Husen dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya, maka ahlul bait itu tidak maksum.
Kesimpulan yang dapat diambil dengan apa yang dijelaskan diatas adalah Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib adalah menjadi ahlul bait yang tidak maksum sebagaimana juga istri-istri Rasulullah saw juga.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang-Undang Madinah silahkan lihat dikumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
———-

Stockholm, 5 Oktober 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr wbr.

AL-AHZAB 33:28-34, AL-MAIDAH 5:6, HUD 11:72-73 DAN HADITS AL-KISA
TIDAK MEMBUKTIKAN ADANYA HUBUNGAN ANTARA MAKSUM DAN AHLUL BAIT.
Ahmad Sudirman
Stockholm – SWEDIA.

AKHIRNYA HASIL GALIAN AL-AHZAB 33:28-34, AL-MAIDAH 5:6, HUD 11:72-73 DAN HADITS AL-KISA TIDAK MEMBUKTIKAN ADANYA HUBUNGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT.

Dalam tulisan ini merupakan kesimpulan dari tulisan “Melihat dibalik Al-Ahzab
33:28-34, Al-Maidah 5:6 dan Hud 11:72-73 dihubungkan dengan maksum dan Ahlul
bait” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/061003b.htm ) dan tulisan “Masih menggali Al-Ahzab 33:28-34 yang diperluas dengan hadits Al-Kisa dihubungkan dengan maksum dan Ahlul bait” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/061004.htm ) dan sekaligus sebagai suatu jawaban atas pertanyaan apakah ayat 33 dalam surat Al Ahzab itu adalah dasar kekuatan nash maksumnya ahlul bait?

Setelah kita menggali Al-Ahzab 33:28-34, Al-Maidah 5:6, Hud 11:72-73 dan hadist
Al-Kisa dalam usaha mencari jawaban apakah ada kekuatan nash yang bisa dijadikan sebagai fakta, bukti dan hukum yang kuat yang bisa membuktikan adanya hubungan atau korelasi antara maksum atau bebas dari dosa dan Ahlul bait.

Ternyata setelah digali dalam nash yang tertuang dalam ayat 28 sampai ayat 34 dalam surat Al-Ahzab, juga dalam ayat 6 surat Al-Maidah, dan juga ayat 72 dan ayat 73 dalam surat Hud, serta yang terkandung dalam hadits Al-Kisa, maka tidak ditemukan fakta, bukti dan hukum yang kuat yang mengacu kepada nash tersebut yang memberikan jalan adanya hubungan kuat antara maksum dan ahlul bait.

Dalam ayat 33 surat Al-Ahzab tidak ditujukan langsung bahwa ahlul bait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husen. Karena itu ketika Rasulullah saw mendapat wahyu ayat 33 surat Al-Ahzab mengetahui dengan bimbingan Allah SWT bahwa dalam ahlul bait itu tidak dimasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen, melainkan instri-istri Rasulullah saw saja, maka begitu selesai ayat 33 surat Al-Ahzab diturunkan, langsung
Rasulullah saw memanggil Fatimah, Hasan dan Husen dan menyelimuti. mereka termasuk Ali dengan Kisa (kain Yaman). Kemudian Rasulullah saw berdo’a: ”Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.”

Nah, itulah butiran ayat 33 surat Al-Ahzab yang menyangkut ahlul bait yang
kedalamnya dimasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen bersama-sama istri-istri Rasulullah saw sebagaimana yang difirmankan dalam surat Al-Ahzab 33: 28-32.
Kemudian do’a Rasulullah saw yang isi do’anya bahwa mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husen) adalah juga ahlul bait-nya semoga dihilangkan dosa mereka dan dibersihkan sebersih-bersihnya.

Nah sekarang, dengan berdasarkan kepada surat Al-Ahzab 33: 28-34 dan hadits Al-Kisa tersebut terjawablah sudah pertanyaan “apakah ayat 33 dalam surat Al Ahzab itu adalah dasar kekuatan nash maksumnya ahlul bait?”

Yaitu do’a Rasulullah saw untuk memasukkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husen kedalam ahlul bait dan memohon Allah SWT menghilangkan dosa dari Ali, Fatimah, Hasan dan Husen dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya, maka itu membuktikan bahwa ahlul bait dalam hal ini Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib adalah tidak maksum. Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib adalah sama seperti istri-istri Rasulullah saw sebagaimana yang tertuang dalam ayat 28 sampai 32 surat Al-Ahzab yaitu golongan ahlul bait yang tidak maksum.

Terakhir, semoga dengan penjelasan ini kita semua mendapat gambaran secara nash bahwa menggolongkan ahlul bait terutama Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husen bin Ali bin Abi Thalib kedalam golongan orang-orang maksum adalah tidak ada fakta, bukti hukum dan nash-nya yang kuat. Semoga kita semua tetap diberi pertolongan dan petunjuk oleh Allah SWT, amin.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang-Undang Madinah silahkan lihat dikumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

Entry filed under: ad-dien. Tags: .

QLogic SANSurfer Networker Legato for Solaris

2 Komentar Add your own

  • 1. ressay  |  Februari 7, 2010 pukul 5:20 pm

    http://ressay.wordpress.com/2010/01/04/siapakah-ahlulbayt-dalam-surat-al-ahzab-ayat-33/
    http://secondprince.wordpress.com/2010/01/21/dalil-ahlul-bait-bukanlah-istri-istri-nabi/

    Balas
  • 2. elfan  |  November 4, 2010 pukul 8:16 am

    Apa yg diuraikan tulisan di atas, mengingatkan saya pada sejarah kaum Yahudi dengan kaum Nasrani, dimana kedua kelompok ini, saling klaim tentang keberadaan Nabi Ibrahim As. Kaum Yahudi mengklaim, bahwa Nabi Ibrahim As. itu adalah termasuk ke dalam golongan Yahudi, lalu yang kaum Nasraninya juga mengklaim bahwa Nabi Ibrahim itu adalah golongannya, kaum Nasrani.

    Dengan adanya perseteruan kedua belah pihak tersebut, maka datanglah Al Quran, lalu Allah SWT berfirman: “Ibrahim bukan Yahudi dan bukan (pula) Nasrani,………(QS. 3:67)

    Begitu juga halnya dengan masalah keberadaan ‘ahlul bait’, disatu pihak ada kaum yang mengklaim bahwa merekalah yang satu-satunya berhak ‘mewarisi’ mahkota atau tahta keturunan ‘ahlul bait’. Ee pihak kaum yang satunya juga tak mau kalah bahwa merekalah yang pihak pewaris tahta keturunan ‘ahlul bait’. Dalil kedua pihak ini, sama-sama merujuk pada peran dan keberadaan dari Bunda Fatimah, anak Saidina Muhammad SAW bin Abdullah, sebagai ‘ahlul bait’ yang sesungguhnya dan sering dianggap oleh sebagian besar umat Muslim sebagai pewaris ‘keturunan nabi atau rasul’.

    Jika kita merujuk pada Al Quran, yakni S. 11:73, 28:12 dan 33:33 maka Bunda Fatimah ini tinggal ‘satu-satu’-nya dari beberapa saudara kandungnya. Benar, jika beliau inilah, salah satu pewaris dari tahta ahlul bait. Sementara saudara kandungnya yang lainnya, tidak ada yang hidup dan berkeluarga yang berumur panjang.

    Begitu juga, terhadap saudara kandung Saidina Muhammad SAW juga berhak sebagai ‘ahlul bait’, tapi sayang saudara kandungnya juga tidak ada karena beliau adalah ‘anak tunggal’. Apalagi kedua orangtua Saidina Muhammad SAW, yang juga berhak sebagai ‘ahlul bait’, tetapi sayangnya kedua orangtuanya ini tak ada yang hidup sampai pada pengangkatan Saidina Muhammad SAW bin Abdullah sebagai nabi dan rasul Allah SWT.

    Kembali ke masalah Bunda Fatimah, karena tinggal satu-satunya sebagai pewaris tahta ‘ahlul bait’, maka timbullah masalah baru, bagaimana pula status dari anak-anak dari Bunda Fatimah yang bersuamikan Saidina Ali bin Abi Thalib, keponakan dari Saidina Muhammad SAW, apakah anak-anaknya juga berhak sebagai ‘pewaris’ tahta ahlul bait?.

    Dengan meruju pada ketiga ayat di atas, maka karena Bunda Fatimah adalah berstatus sebagai ‘anak perempuan’ dari Saidina Muhammad SAW, dan dilihat dari sistim jalur nasab dengan dalil QS. 33:4-5, maka perempuan tidak mempunyai kewenangan untuk menurunkan nasabnya. Kewenangan menurunkan nasab tetap saja pada kaum ‘laki-laki’, kecuali terhadap Nabi Isa As. yang bernasab pada bundanya, Maryam.

    Dari uraian tersebut di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa menurut konsep Al Quran, bahwa kita tidak mengenal sistim pewaris nasab dari pihak perempuan, artinya sistim nasab tetap dari jalur laki-laki. Otomatis Bunda Fatimah walaupun beliau adalah ‘ahlul bait’, tidak bisa menurunkan nasabnya pada anak-anaknya dengan Saidina Ali bin Abi Thalib. Anak-anak dari Bunda Fatimah dengan Saidina Ali, ya tetap saja bernasab pada nasab Saidina Ali saja.

    Kesimpulan akhir, bahwa tidak ada pewaris tahta atau mahkota dari AHLUL BAIT, mahkota ini hanya sampai pada Bunda Fatimah anak kandung dari Saidina Muhammad SAW. Karena itu, kepada para pihak yang memperebutkan mahkota ahlul bait ini kembali menyelesaikan perselisihan fahamnya. Inilah mukjizat dari Allah SWT kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW, sehingga tidak ada pihak hamba-Nya, manusia yang mempunyai status istimewa dihadapan Allah SWT, selain hamba pilihan-Nya, nabi, rasul dan hamba-Nya yang takwa, muttaqin.

    semoga Allah SWT mengampuni saya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Top Rated

Blog Stats

  • 33,851 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: