Reinventing the missing Islamic time sistem

Januari 17, 2010 at 1:36 am Tinggalkan komentar


MUHAMMAD SARDJONO/MAX 10/13/2008 10:09 AM To Nuralih Nuralih/MAX@IND_LN cc Subject KUTC

Assalaamu ‘alaykum wa rohmarulloohi wa barokaatuh. Bila perubahan tanggal adalah di Ka’bah dapatkah dikatakan perubahan hari juga di Ka’bah? Jazaakalloohu khoyro atas tanggapannya. Wassalaamu ‘alaykum wa rohmatulloohi wa barokaatuh.

 

 

Wa alaikum sallam

Ada artikel di internet dari

 

Bambang Sarkoro

Ka’bah Universal Time

Reinventing the missing Islamic time sistem

 

 

Sebuah buku menarik karya Bambang

 

E. Budhiyono berjudul KUT (Ka’bah Universal Time), atau di terjemahkan dengan judul yang lebih “gagah” REINVENTING THE MISSING ISLAMIC TIME SYSTEM.

 

 

{ Kami (Orang Jawa) sebenarnya sudah memiliki sistem kalender Jawa yang memiliki pola yang sama dengan sistim kalender Islam. Dan Sultan Agung Hanyakrakesuma menggabungkan sistem kalender Islam dengan sistim kalender Jawa }

Sungguh amat disayangkan bahwa *kekayaan* ini banyak dilupakan orang (Jawa – Islam). Sehingga tidak banyak lagi *warga negara* mengetahui tentang system waktu Jawa-Islam.

 

Dalam kalender Gregorian (Masehi), membagi waktu dunia menjadi dua bagian dengan menetapkan garis tanggal international 0* pada Greenwich dan 180* pada selat Bosporus (antara Rusia Canada). Penggantian Tanggal harian ditetapkan pada jam 00:00 pada Meridian 180*.

Penetapan garis tanggal International diprakarsai oleh Stanford Fleming (Canada) dan Charles F Down (Amerika) pada tahun 1883 dan disyahkan sebagai sistim tata waktu international dalam suatu konvensi pada tahun 1885. Maka sejak saat itu dunia *terbelah dua* dengan latitude 0* ~ +180* sebagai Bujur Timur dan 0* ~ -180* sebagai Bujur Barat. Maka sejak itu kita mengenal negara-negara Barat dan Negara-negara Timur.

 

Dalam proyeksi perjalanan matahari dari Timur ke Barat, maka negara negara y ang berada pada merian 0* ~ +180* akan mendahului 1 hari dibandingkan dengan negara-negara Barat yang ada pada meridian 0* ~ -180*. Lalu apa akibatnya ?

Ka’bah yang terletak pada meridian +40* BT dan Indonesia yang terbentang dari meridian +94* ~ +141* BT (bujur Timur) memiliki selisih waktu 4 ~ 6 Jam (15* meridan per jam). Dimana Indonesia (jakarta) mendahului 4 jam lebih awal dibandingkankan waktu di Ka’bah (Mekkah). Sehingga (misalnya) kita melakukan Shalat Ied pada pagi hari jam 7:00 maka Umat muslim di Mekkah masih melakukan Takbir atau masih ada yang terlelap tidur (jam 3:00 dinihari.) Jika mengacu pada QS Al Imran ayat 96

 

 

“Inna Awwala baitin wudi’a linnasi lallazina bibakkata mubarakhan wahudan lil ‘alamnin”. {sesungguhnya rumah mula-mula dibangun untuk (tempat ibadat) manusia, ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bag i semua umat manusia).

Dan bilamana surat diatas kita gandeng dengan Surat Al Hujurat ayat 1 (QS 49:1)

 

“Ya ayyuhal ladzina aamanu tuqqadimu baina yadayillahi wa rasuullihi wattaqullaha innallaha sami’un ‘aliim. (Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan mengetahui).

maka secara jelas bahwa umat muslim yang berada disebelah timur Mekkah (meridian > 40* BT ~ 180* BT) MENDAHULUI melakukan ibadah Maddah dan bertentangan dengan sunnah Rasul.

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir , Ibnu Abu Dunya meriwayatkan pada kitab Al Adhahi, dimana Rasullulah membatalkan ibadah penyembelihan hewan Qurban karena mereka melakukan penyembelihan hewan Qurban sebelum Rasulullah melakukanya. Dan memerintahkan mereka mengulangi penyembelihan Hewan Qurban setelah beliau melakukan penyembelihan. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Tabhrani dalam kitab Al Ausath.

Jelasnya kita bisa terkecoh, manakala Kalender Gregorian (Masehi) sebagai petunjuk tanda waku ibadah Maddah karena kita akan selalu mendahului menjalankan shalat sebelum Shalat yang sama dilakukan di Baitullah Mekah pada hari yang sama

 

Bersambung pada bagian ke 2

 

Wassalam

Bambang Sarkoro

————–

Ka’bah Universal Time (2)

Reinventing the missing Islamic time sistem

 

Seperti yang dijelaskan oleh penulis buku ini (Bambang E. Budhiyono). Bahwa KUT tidak membagi tanggal international menjadi menjadi dua bagian (timur dan Barat). Tetapi dengan menggeser Garis waktu penggantian tanggal 180* meridian ke 40* BT. dan ditetapkan sebagai 0* meridian Ka’bah UT. Dan penggantian tanggal tidak lagi pada jam 00:00 tetapi pada jam 18:00, sebagimana layaknya orang Jawa yang menyatakan bahwa (misal) hari Kamis Sore jam 18:00 adalah malam Jum’at / awal Jum’at).

 

Atau biasa kita menyebut sabtu petang sebagai Malam Minggu. Yang lebih menitik beratkan pada faham tata waktu Jawa.

SUMBER:

 

Entry filed under: ad-dien, Fisika, Info. Tags: .

EMC Technical Bulletins Bebarapa Rahasia Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

Januari 2010
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rated

Blog Stats

  • 33,851 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: