Rahasia Al-Qur’an (6)

Januari 17, 2010 at 7:16 am Tinggalkan komentar


HIKMAH DAN PEMBICARAAN YANG JELAS ADALAH RAHMAT DARI ALLAH

Hikmah dan pembicaraan yang jelas adalah rahmat dari Allah, sebagaimana yang diceritakan dalam ayat-ayat al-Qur’an sebagai berikut:

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (Q.s. al-Baqarah: 269).

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan pembicaraan yang jelas.” (Q.s. Shad: 20).

Hikmah dan kemampuan berbicara yang jelas adalah karunia yang besar dari Allah. Suatu persoalan dapat dijelaskan oleh bermacam-macam orang dengan gaya yang berbeda-beda. Namun, gaya yang paling berpengaruh adalah gaya yang mengesankan dan jelas. Penjelasan seperti itu dapat menjadikan seseorang memusatkan perhatiannya, membangunkannya dari kelalaian, mendorongnya untuk berpikir tentang hal-hal yang telah diketahui tetapi sering dilupakan. Seseorang yang memiliki kemampuan berbicara yang jelas tidak perlu berbicara panjang lebar, tetapi cukup menyatakan pikiran-pikirannya dan pandangan-pandangannya secara singkat, padat, namun memiliki pengertian yang sangat luas dan mengesankan. Seorang bijak yang menjelaskan suatu persoalan dengan ikhlas menjadikan penjelasan yang diberikannya menimbulkan kesan yang lebih kuat bagi orang lain. Satu hal yang patut disebutkan disini — bahwa berbicara dengan jelas itu bukan merupakan sebuah bidang yang dapat dipelajari. Ia tidak memiliki aturan atau teori yang rumit. Ia hanya memerlukan keikhlasan dan doa untuk meminta rahmat dari Allah. Ketika seseorang berbicara, Allah memberikan ilham kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Karya agung tentang hikmah dan pembicaraan yang jelas adalah alQur’an , yang merupakan firman Allah secara langsung. Hikmah ini merupakan sesuatu yang istimewa dari semua kitab yang diturunkan Allah kepada umat manusia. Hal ini diceritakan dalam ayat berikut ini:

“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang didalamnya terdapat cegahan: itulah suatu hikmah yang sempurna — tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna.” (Q.s. al-Qamar: 4-5).

MANUSIA JUGA AKAN DIMINTAI TANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG MEREKA PIKIRKAN DAN MEREKA NIATKAN

Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia agar hidup berdasarkan asas-asas agama dengan kerelaan hati dan dengan khusyuk:

“Barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 184).

“Peliharalah segala shalatmu, dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (Q.s. al-Baqarah: 238).

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Q.s. an-Nahl: 120).

Sebagaimana terlihat dalam ayat-ayat di atas, Allah memerintahkan umat manusia agar mengerjakan semua shalatnya dengan khusyuk. Di samping mengerjakan shalat, puasa, bersedekah, atau amal saleh lainnya, yang sesungguhnya sangat penting bagi seseorang adalah niatnya. Dalam alQur’an, Allah mengingatkan kita tentang keadaan sebagian orang yang mengerjakan shalat atau yang menginfakkan hartanya hanya untuk pamer. Kemungkinan orang seperti ini tidak mengingat Allah, tidak bersikap khusyuk dan khudhu’ dihadapan Allah dalam shalatnya, tetapi shalatnya hanya bersifat ritual saja. Mungkin seseorang secara lahiriah tampak melakukan kedermawanan, menyumbang sekolah, atau membantu orang miskin. Tetapi jika hal itu tidak dikerjakan untuk mencari ridha Allah, tidak menyadari kelemahannya, tidak merasa memerlukan Allah, tidak takut terhadap akhirat, amalan-amalan ini tidak akan diterima Allah. Allah menceritakan kepada kita bahwa darah binatang kurban tidak sampai kepada-Nya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaannya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

Di antara kesalahan-kesalahan besar yang banyak dipercayai adalah bahwa manusia menganggap, mereka hanya akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan mereka. Padahal, Allah memberi tahu kita bahwa manusia akan dimintai tanggung jawabnya atas niatnya, pikirannya, bahkan apa yang tersimpan di dalam lubuk hatinya.
“Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.s. al-Baqarah: 284).

Allah mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, apa yang ada dalam bawah sadarnya, apa yang dipikirkannya, dan apa yang tersembunyi dari orang lain. Allah menengahi antara seseorang dan hatinya. Dengan demikian, manusia tidak mungkin menyembunyikan segala sesuatu dari Allah. Keraguan apa pun yang terlintas dalam hati, bisikan-bisikan setan, keimanannya yang sesungguhnya, keimanannya terhadap al-Qur’an, apa saja yang terlintas dalam hatinya ketika sedang shalat, semuanya diketahui satu per satu oleh Allah, dan semuanya diingat oleh Allah. Misalnya, Allah mengetahui ketika seseorang mengerjakan shalat dengan malas, atau ketika pikirannya mengalami pertentangan. Manusia akan menjumpai semuanya itu pada Hari Akhir. Membersihkan hati, menjalani hidup berdasarkan agama dan dalam mengamalkannya tidak hanya bersifat ritual tetapi dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan, semua ini merupakan jalan untuk mencapai keselamatan. Betapa bodohnya mengabaikan kehidupan yang abadi dan hakiki hanya untuk mengejar kehidupan yang singkat dan sementara. Di bawah ini diketengahkan beberapa ayat, yang di dalamnya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan di dunia:

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).

ALLAH MEMASUKKAN RASA CINTA KE DALAM HATI MANUSIA

Dalam beberapa ayat, Allah menyatakan bahwa Dialah Yang memasukkan perasaan cinta dan kasih sayang ke dalam hati manusia. Misalnya, Allah telah menyatakan dalam ayat di bawah ini bahwa Dialah Yang mengumpulkan orang-orang beriman dan menyatukan hati mereka sebagai saudara:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepa
da tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.s. Ali Imran: 103).

Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu kita bahwa Dialah Yang memberikan kepada orang-orang beriman perasaan belas kasihan.

“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia adalah seorang yang bertakwa.” (Q.s. Maryam: 12-3).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.s. Maryam: 96).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.s. ar-Rum: 21).

Allah juga menyatakan bahwa Dia akan memasukkan perasaan kasih sayang diantara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memusuhi mereka. Telah jelas bahwa Allahlah yang mengendalikan semua hati – baik orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman.

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Mumtahanah: 7).

KEMATIAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN KAFIR TIDAK AKAN SAMA

Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan suatu rahasia tentang kematian, yang tidak diketahui oleh banyak orang — bahwa saat kematian yang dialami oleh seseorang sesungguhnya tidaklah sebagaimana yang dilihat orang lain. Allah menceritakan kepada kita dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Q.s. al-Waqi‘ah: 83-5).

Rahasia lain yang diungkapkan Allah tentang kematian adalah bahwa saat kematian itu bagi orang-orang kafir merupakan pengalaman yang mengerikan dan menyengsarakan. Tetapi orang-orang disekitarnya tidak dapat menyaksikan kengerian itu. Allah menyatakan kenyataan ini dalam ayat-Nya sebagai berikut:

“Dan siapakah yang lebih zalim dari
pada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepada saya,’ padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’ Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul-maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.s. al-An‘am: 93).

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.” (Q.s. at-Taubah: 9).

Berdasarkan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, seorang kafir tampaknya saja mati dalam keadaan tenang di tempat tidurnya. Kelihatannya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya ia sama sekali tidak mengalami kesakitan atau penderitaan pada saat kematiannya, kecuali matanya hanya tertutup. Namun, Allah memberi tahu kita bahwa seorang kafir merasakan penderitaan yang dahsyat yang tidak dapat kita saksikan. Bagaimana para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Bagaimanakah apabila malaikat menca
but nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci apa yang diridhai-Nya; sebab itu Allah menghapus amal-amal mereka.” (Q.s. Muham
mad: 27-8).
“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka mereka dan belakang mereka, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya’.” (Q.s. al-Anfal: 50-1).

Sebagai kebalikan dari kematian yang menyengsarakan yang dialami orang-orang kafir, orang-orang beriman mengalami kematian dengan sangat mudah. Misalnya, seorang beriman yang berperang di medan peperangan di dekat nabi, kemudian ditikam dengan pedang, ia terbebas dari semua rasa takut, ia meng
alami saat kematian yang damai. Sebagaimana diberitakan oleh Allah dalam ayat tersebut, nyawa orang-orang yang beriman akan dicabut dalam keadaan suci dan mereka akan disambut oleh malaikat dengan salam dan berita gembira. Allah menjelaskan kematian orang-orang beriman sebagai berikut:

“Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan, ‘Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan’.” (Q.s. an-Nahl: 32).

SHALAT MENJAUHKAN MANUSIA DARI
PERBUATAN JAHAT

Shalat diperintahkan kepada orang-orang beriman pada saat-saat yang telah ditetapkan setiap hari, sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang benar-benar menjaga shalatnya dan yang istiqamah dalam mengerjakannya. Pahala lain yang akan diberikan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat dijelaskan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an ) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-‘Ankabut: 45).

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang mengerjakan shalat dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Allah akan menolong untuk menjauhkannya dari perbuatan jahat.
Orang yang benar-benar menjaga dan mengerjakan shalat sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an adalah orang yang bertakwa kepada Allah. Orang yang berdiri, ruku’, dan sujud di hadapan Allah pada waktu-waktu tertentu setiap hari pasti akan dijauhkan dari perbuatan jahat, dan ia akan sangat takut kepada Allah. Hati nurani orang-orang seperti itu, dengan kehendak Allah, akan senantiasa dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Sekalipun mereka melakukan kemungkaran untuk sementara waktu, mereka akan menyadari kesalahan mereka pada saat berdoa dan bertafakkur di hadapan Allah Yang Maha kuasa. Kemudian mereka akan bertobat dan menjauhi kemungkaran tersebut pada masa berikutnya.

ORANG-ORANG YANG TERBUNUH DI JALAN ALLAH TIDAKLAH MATI

Allah telah mengungkapkan dalam al-Qur’an, bahwa orang-orang yang meninggal di jalan-Nya sesungguhnya tidaklah “mati”, tetapi hidup di sisi-Nya. Keadaan mereka ini diungkapkan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 169-71).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.s. al-Baqarah: 154).

Bahwa Allah akan menyempurnakan rah
mat bagi orang-orang yang syahid dan bahwa mereka akan dimasukkan kedalam surga merupakan rahasia Allah lainnya yang diungkapkan dalam al-Qur’an.

“Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (Q.s. Muhammad: 4-6).

“Maka Tuhan mereka mengabulkan per
mohonan mereka, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka kedalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik’.” (Q.s. Ali Imran: 195).

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.s. al-Hajj: 58-9).
Kenyataan yang diungkapkan dalam ayat-ayat di atas tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah diantara rahasia-rahasia dalam al-Qur’an, yang pada umumnya tidak diketahui orang banyak.

ALLAH PEMBERI KEMULIAAN

Banyak orang yang tidak mempercayai akhirat, sehingga berlomba mencari keku
asaan, kekuatan, dan kehebatan di dunia, mereka menganggap bahwa kehidupan itu hanyalah kehidupan dunia. Sepanjang hidup mereka, mereka berusaha dengan tamak untuk mencapai tujuan ini. Mereka memiliki nilai dan patokan tersendiri tentang kekuasaan, kekuatan, dan kemuliaan. Menurut kriteria mereka, orang perlu kaya, memiliki peran penting dalam masyarakat, dan kemasyhuran. Seandainya mereka tidak memiliki salah satu di antara kriteria tersebut, mereka menganggap bahwa mereka tidak memiliki harga diri, kemuliaan, dan gengsi. Padahal itu merupakan pandangan yang salah. Kesalahan ini dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Q.s. Maryam: 81-2).

Satu-satunya pemiliki kekuatan dan keku
asaan adalah Allah, dan Dialah yang mem
berikan kekuatan dan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang menggunakan asbab lain untuk memperoleh kekuatan dan kekuasaan selain dari berdoa kepada Allah sesungguhnya telah menyekutukan-Nya. Hal ini karena kekayaan, prestise, atau kedudukan tidak dapat memberikan kekuatan kepada seseorang. Di samping itu, bagi Allah hanya memerlukan waktu sedetik saja untuk mencabut kekuasaan itu dari seseorang. Misalnya, seorang top-eksekutif bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya, kehormatannya, dan kedudukannya dalam sesaat, karena satu-satunya pemilik yang hakiki dari segala sesuatu adalah Allah.
Allah mengaruniakan kekuatan dan kemu
liaan kepada hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya, yang dengan sepenuh hati mengabdi kepada-Nya, dan yang mengikuti al-Qur’an. Seseorang yang hidup berdasarkan al-Qur’an tidak pernah melakukan apa pun yang dapat membawa kepada kehinaan, penyesalan, atau malu di hadapan Tuhan. Orang-orang yang benar-benar beriman tidak takut kepada siapa pun dan kekuasaan mana pun, dan tidak pernah menjilat siapa pun. Yang mereka inginkan hanyalah memperoleh ridha Allah dan hanya takut kepada Allah. Itulah sebabnya mereka tidak merasa lemah dan tidak pernah merasa kekurangan. Meskipun mereka tidak memiliki harta benda, kekayaan, jabatan, atau prestise, Allah memberikan kepada mereka kekuatan dan kemuliaan. Orang-orang seperti itu memiliki ketinggian dan kemuliaan karena iman mereka, dan mereka hidup berdasarkan ajaran al-Qur’an. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Munafiqun: 8).

RAHASIA MENCARI JALAN YANG BENAR

Hampir setiap orang memiliki kriteria sendiri-sendiri tentang yang benar dan yang salah. Kriteria yang digunakan untuk menetapkan yang benar dan yang salah ini sangat berbeda-beda. Sebuah buku, seseorang, seorang politisi, atau kadang-kadang seorang filsuf, barangkali dijadikan pembimbing dalam kehidupan seseorang. Namun demikian, jalan yang benar, sebagai satu-satunya jalan yang menuju kepada keselamatan, adalah agama yang telah dipilihkan oleh Allah. Menurut jalan ini, tujuan utamanya adalah untuk mencari keridhaan, rahmat, dan surga Allah. Sedangkan jalan-jalan lainnya, betapapun menariknya jalan itu kelihatannya, hanyalah menipu dan menjerumuskan kepada kehancuran, keputusasaan, penderitaan, dan siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.
Orang-orang yang dibimbing ke jalan yang benar merupakan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Mereka adalah hamba-hamba yang dibimbing Allah kepada jalan-Nya dan yang memperoleh surga-Nya.

Beriman dengan Penuh Keyakinan

Sebelum yang lain-lainnya, orang perlu memiliki iman agar dapat memperoleh bimbingan kepada jalan yang lurus. Jika seseorang meyakini bahwa pemilik dan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu di antara langit dan bumi itu adalah Allah, dan ia merasa yakin bahwa tujuan keberadaannya di dunia adalah untuk menjadi hamba Allah, dan ia mencari ridha Allah dalam seluruh kehidupannya, maka Allah akan membimbingnya ke jalan yang lurus. Beriman kepada Allah, akhirat, dan al-Qur’an haruslah merupakan iman yang teguh dan yakin. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, tetapi mereka menyimpan keraguan. Ketika mereka berkumpul dengan orang-orang kafir dan berada di bawah pengaruh mereka, orang-orang seperti itu kemungkinan menampakkan kelemahan dan bersikap memusuhi terhadap Allah dan agama-Nya. Akan tetapi, orang-orang yang dibimbing Allah kepada jalan yang lurus memiliki iman yang teguh dan tidak tergoyahkan:

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Hajj: 54).

Berpaling kepada Allah dengan
Penyerahan yang Sempurna

Orang-orang beriman yang berpaling kepada Allah dengan penyerahan yang sempurna merupakan rahasia lain dalam memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus. Bagi orang yang beriman kepada Allah dan takut akan akhirat, dunia ini tidaklah menarik baginya. Karena yang didambakannya hanya mencari ridha Allah, orang-orang yang benar-benar beriman berpaling kepada Allah dalam semua perbuatan mereka, dan mereka mengetahui bahwa Allah menguji mereka, mereka berserah diri kepada Allah atas takdir mereka yang telah ditetapkan Allah. Allah telah memberi tahu bahwa orang-orang yang berserah diri kepada-Nya akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus:

“Dan bagaimanakah kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.s. Ali Imran: 101).

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu ten
tang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (Q.s. asy-Syura: 13).

Mengikuti Nasihat yang Diberikan

Perintah Allah lainnya kepada hamba-hamba-Nya yang menginginkan petunjuk kepada jalan yang lurus adalah sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya kalau mereka melak
sanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan mereka. Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 66-8).

Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah berusaha untuk membersihkan diri mereka dari kesalahan dan berusaha untuk memperoleh kesempurnaan akhlak yang menjadikan Allah ridha kepadanya. Namun, orang perlu bersikap rendah hati agar kesalahan-kesalahannya diampuni dan agar memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Orang yang rendah hati yang berusaha untuk membersihkan dirinya, pertama-tama akan bersungguh-sungguh mengikuti perintah-perintah Allah. Di samping itu, orang-orang beriman yang ikhlas saling menjadi teman dan pelindung bagi orang lain. Mereka memerintahkan yang benar dan melarang yang mungkar. Dengan demikian, karena mengetahui bahwa peringatan seorang yang beriman itu sangat penting bagi penghisaban seseorang di akhirat, maka orang-orang yang beriman juga harus saling mau menerima nasihat. Orang yang mau mengikuti nasihat yang baik akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang menjauhi bujukan setan dan menaati orang-orang yang menyeru kepada al-Qur’an dan perintah-perintah-Nya:

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.s. az-Zumar: 17-8).

NAFSU MANUSIA MEMERINTAHKAN
PERBUATAN FASIK

Nafsu manusia merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong dan mengetahui kefasikan dan cara menjauhinya. Dengan kata lain, ia merupakan nafsu yang mengilhamkan kefasikan dan kejahatan. Allah menceritakan dua sifat nafsu ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Dan nafsu serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafsu itu kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan nafsu itu.” (Q.s. asy-Syams: 7-9).

Nafsu disebutkan dalam ayat tersebut sebagai sumber semua keburukan dan kesalahan bagi manusia. Karena memiliki sifat seperti itu, nafsu merupakan salah satu di antara musuh manusia yang sangat berbahaya. Nafsu itu bersifat sombong dan mementingkan diri sendiri; ia selalu ingin memuaskan kehendaknya dan kesombongannya. Ia hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri, kepentingannya sendiri, dan hanya mencari kesenangan. Ia berusaha melakukan apa saja untuk memperdayakan manusia, karena nafsu selalu tidak mungkin dapat memenuhi keinginannya melalui cara yang benar. Ucapan Nabi Yusuf menjelaskan keadaan ini dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Yusuf: 53).

Bahwa nafsu seseorang dengan kuat mengilhamkan perbuatan fasik dan jahat merupakan rahasia penting yang diungkapkan kepada orang-orang beriman, dan takut kepada Allah. Dengan diungkapkannya rahasia ini, mereka dapat mengetahui bahwa nafsu tidak pernah berhenti bekerja, sekalipun hanya sedetik. Melalui godaan, ia selalu berusaha menjerumuskan manusia dari jalan Allah. Berdasarkan rahasia ini, nafsu tidak akan pernah diam; ia akan selalu membenarkan perbuatannya dalam keadaan apa saja, ia akan selalu mencintai dirinya sendiri melebihi yang lain, ia semakin sombong, menginginkan benda apa saja dan menginginkan kenikmatan. Pendek kata, ia berusaha dengan cara apa saja agar seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hal-hal yang diridhai Allah.
Sesungguhnya, perilaku dan perbuatan orang-orang kafir yang tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an sepenuhnya dibentuk oleh nafsu mereka. Karena tidak takut kepada Allah, orang-orang kafir tidak memiliki kehendak untuk mengikuti hati nurani mereka, tetapi lebih cenderung untuk mengikuti nafsu mereka. Percekcokan, konflik kepentingan, dan ketidakbahagiaan yang melanda masyarakat dan agama diabaikan, berakar dari individu-individu yang terjerat oleh nafsu mereka dan kepentingan diri mereka, sehingga akibatnya, mereka kehilangan sifat-sifat manusia seperti kasih sayang, saling menghormati, dan pengorbanan.
Itulah sebabnya mengapa rahasia yang diungkapkan oleh Allah ini sangat penting. Jika seseorang mencamkan rahasia ini dalam hatinya, ia dapat mewaspadai nafsu dan melakukan perbuatan yang benar. Nafsu dapat ditundukkan dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan. Misalnya, ketika nafsu memerintahkan untuk bermalas-malas, kita harus bekerja lebih keras. Ketika nafsu memerintahkan untuk mementingkan diri sendiri, kita harus lebih banyak berkorban. Ketika nafsu memerintahkan untuk berbuat kikir, kita harus menjadi lebih dermawan.
Di samping sisi nafsu yang jahat, dari surat asy-Syams kita mengetahui bahwa Allah juga mengilhamkan kepada nafsu hati nurani yang menjadikan seseorang dapat mengendalikan nafsunya agar tidak memuaskan keinginannya yang rendah. Yaitu, di samping nafsu itu mendordong kepada kefasikan, ia juga mendorong kepada kebajikan. Setiap orang mengtahui akan bisikan ini dan dapat mengenali perbuatan fasik dan perbuatan baik. Namun, hanya orang-orang yang takut kepada Allah yang dapat mengikuti hati nurani mereka.

RAHASIA KEMAKMURAN DAN KEKAYAAN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA

Seluruh alam raya ini adalah milik Allah, dan Dia memberikan apa saja yang Dia kehendaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allahlah yang memberi rezeki kepada manusia, Dialah yang menjadikan mereka kaya, dan Dialah yang memberi panen yang berlimpah kepada mereka. Sebagaimana Allah menyatakan dalam sebuah ayat, Allah meluaskan rezeki kepada hamba-hamba-Nya menurut kehendak-Nya, dan Dialah juga yang menyempitkan rezeki tersebut. Dia melakukan ini untuk alasan tertentu dan karena hikmah tertentu. Baik orang-orang yang rezekinya diluaskan maupun yang rezekinya disempitkan, pada hakikatnya merupakan ujian dari Allah. Orang-orang yang tidak menjadi sombong dan boros karena apa yang telah diberikan kepada mereka, tetapi bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang dikaruniakan kepada mereka, orang-orang yang bertawakal kepada Allah dan tetap bersabar ketika harta mereka disempitkan, mereka adalah hamba-hamba yang diridhai Allah. Ucapan Nabi Sulaiman yang diketengahkan dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari ujian:

“Seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka ketika Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau ingkar. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia’.” (Q.s. an-Naml: 40).

Ucapan Nabi Sulaiman yang menyatakan, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk men
coba aku apakah aku bersyukur atau ingkar,” menjelaskan salah satu alasan mengapa orang-orang diberi harta.
Apa yang Allah nyatakan sebagai “kese
nangan dunia” dalam al-Qur’an — termasuk harta benda, anak-anak, istri, sanak keluarga, kedudukan, kehormatan, kecerdasan, kecantikan atau ketampanan, kesehatan, perdagangan yang menguntungkan, keberhasilan, pendek kata segala sesuatu yang diberikan tersebut merupakan ujian bagi manusia.

Rahasia Kemakmuran yang Diberikan
kepada Orang-orang Kafir

Banyak manusia di dunia ini, meskipun tidak beriman kepada Allah, mereka menikmati umur yang panjang, memiliki kekayaan yang tak terhitung banyaknya, memiliki kebun yang berbuah dan anak-anak yang sehat. Orang-orang seperti ini bukannya mencari keridhaan Allah, tetapi semua karunia yang dinikmatinya tersebut justru menjauhkan dirinya dari Allah. Orang-orang seperti ini, yang menjalani kehidupannya yang panjang dengan mendurhakai Allah dan yang melakukan dosa semakin banyak hari demi hari, menganggap bahwa apa yang mereka miliki itu merupakan kebaikan bagi mereka. Namun, al-Qur’an mengingatkan kita tentang rahasia lain dan tujuan Allah di balik nikmat dan waktu yang diberikan kepada mereka:

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada
an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 85).

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa Kami menang
guhkan mereka itu lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami menang
guhkan mereka hanyalah supaya bertambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Q.s. Ali Imran: 178).

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.s. al-Mu’minun: 54-6).

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut, apa yang dimiliki orang-orang tersebut sesungguhnya bukanlah merupakan kebaikan bagi mereka. Waktu yang diberikan kepada mereka hanyalah untuk menambah dosa mereka. Ketika waktu yang diberikan kepada mereka sudah habis; kekayaan mereka, anak-anak mereka, atau kedudukan mereka, tidak dapat menyelamatkan mereka dari siksa yang pedih. Sesungguhnya, Allah telah menceritakan keadaan umat-umat terdahulu yang hidup dengan kekayaannya dan harta yang melimpah, namun mereka ditimpa azab yang pedih:

Entry filed under: ad-dien. Tags: .

Rahasia Al-Qur’an (5) AURORA OPRATION ( China-linked cyberattack: What you need to know)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

Januari 2010
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rated

Blog Stats

  • 33,851 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: