Rahasia Al-Qur’an (5)

Januari 17, 2010 at 6:11 am 1 komentar


RAHASIA TENTANG BERTAMBAH ATAU BERKURANGNYA NIKMAT

Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan alasan mengapa Dia memberikan nikmat atau mengambilnya dari manusia:

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kamu, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Anfal: 53).

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.s. ar-Ra‘d: 11).

Apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut merupakan rahasia yang sangat penting yang tidak diketahui atau diabaikan oleh kebanyakan manusia. Allah berfirman bahwa Dia akan menambah nikmat bagi orang-orang yang sibuk mengerjakan amal saleh, dan akan mempersempit nikmat bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan, dan nikmat terhadap manusia akan berubah sesuai dengan perubahan perbuatan dan keikhlasan mereka.
Orang-orang yang beriman yang menge
tahui rahasia-rahasia Allah ini berusaha untuk melihat maksud tersembunyi dibalik ciptaan Allah dalam setiap keadaan yang mereka jumpai dan mereka senantiasa memperhatikan masalah tersebut. Mereka tidak pernah merasa sempurna, tetapi mereka berusaha keras untuk memiliki kesempurnaan akhlak sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an, dan berusaha membetulkan kesalahan dan kekhilafan mereka. Dalam hal ini, mereka tidak pernah ragu-ragu untuk selalu berusaha memperbaiki akhlak mereka dan membersihkan tingkah laku mereka.

MENAATI RASUL BERARTI MENAATI ALLAH

Salah satu amal ibadah yang sangat penting yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman dalam al-Qur’an adalah menaati Rasul-Nya. Allah berfirman bahwa Dia telah mengirim para rasul-Nya untuk ditaati, dan orang-orang beriman, dalam setiap zaman, telah diuji ketaatan mereka terhadap para rasul tersebut. Para rasul adalah orang-orang yang menyampaikan pesan Allah dan perintah-Nya kepada manusia, dan mengingatkan mereka tentang hari perhitungan dan tentang ayat-ayat-Nya. Para rasul adalah orang-orang yang lurus dan dirahmati, yang dipilih Allah diantara seluruh manusia; dan perbuatan, sikap, dan kesempurnaan akhlak mereka sebagai teladan. Mereka adalah para kekasih Allah yang sangat dekat dengan-Nya. Sebagai
mana dinyatakan dalam ayat berikut ini, orang yang menaati rasul berarti menaati Allah.

“Barangsiapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Q.s. an-Nisa’: 80).

Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang bersaksi terhadap hal ini akan memperoleh berita gembira:
“Tidakkah kamu telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa saya adalah utusan-Nya? Jika demikian, maka kabar gembira bagi kamu. Qur’an adalah sebuah tali yang satu ujungnya sampai kepada Allah dan ujung yang lain sampai kepadamu. Berpegang teguhlah kepadanya. Jika kamu melakukan itu, kamu tidak pernah terjerumus dalam kesalahan atau bahaya.1
Mendurhakai seorang rasul adalah men
durhakai Allah dan agama-Nya. Ini merupakan salah satu rahasia penting yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an. Dalam sebuah ayat, Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menaati rasul dan orang-orang yang mendurhakainya:

“Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q.s. an-Nisa’: 13-4).

Allah telah mengungkapkan dengan jelas dalam al-Qur’an tentang ketaatan kepada rasul, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar taat dan berserah diri juga akan diterima di sisi-Nya. Sebagaimana yang terlihat dalam ayat-ayat ini, dipenuhinya semua syarat agama dan melakukan banyak ibadah belumlah mencukupi. Jika seseorang tidak menerapkan sikap dan akhlak yang menunjukkan ketaatan kepada rasul sesuai dengan yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an dan hanya setengah-setengah dalam menaati-Nya, mungkin Allah akan menjadikan semua perbuatannya sia-sia. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini dikaji di bawah ini yang dibagi menjadi beberapa bagian:

Tidak Beriman sehingga Menyerahkan Diri
Mereka Sepenuhnya kepada Rasul

Allah mengungkapkan sebuah rahasia yang sangat penting dalam Surat an-Nisa’:

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak ber
iman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.s. an-Nisa’: 65).

Dalam ayat ini diungkapkan sebuah raha
sia penting tentang ketaatan yang sempurna kepada rasul. Hampir semua orang mengetahui apakah ketaatan itu. Namun, ketaatan kepada rasul sangat berbeda dibandingkan dengan bentuk-bentuk ketaatan sebagaimana yang diketahui orang banyak. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang beriman haruslah menaati rasul dengan sepenuh hati, tanpa ada sedikit pun perasaan ragu di dalam hati. Jika seseorang merasa ragu-ragu terhadap apa yang dikatakan oleh rasul dan menganggap pikirannya sendiri lebih benar daripada pikiran rasul, maka sebagaimana dinyatakan oleh ayat tersebut, pada hakikatnya ia bukanlah orang yang beriman.
Orang-orang yang benar-benar beriman dan berserah diri mengetahui bahwa apa yang disabdakan oleh rasul adalah yang terbaik bagi mereka. Sekalipun sabdanya tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka, mereka menerima dan menaati dengan penuh gairah dan semangat. Sikap seperti ini merupakan tanda bahwa ia adalah orang yang benar-benar beriman, dan Allah memberikan kabar gembira berupa keselamatan kepada orang-orang yang menaati rasul dengan ketaatan yang sempurna. Inilah sebagian dari ayat-ayat yang menyatakan kabar gembira dari Allah:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin.” (Q.s. an-Nisa’: 69).

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.s. an-Nur: 52).

“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan dengan terang’.” (Q.s. an-Nur: 54).

Sebagaimana dinyatakan di atas, orang-orang yang menaati rasul akan memperoleh petunjuk. Di sepanjang sejarah, semua orang diuji atas ketaatan mereka terhadap para rasul. Allah selalu memilih Rasul-rasul-Nya dari kalangan manusia. Dalam hal ini, orang-orang yang berpikiran sempit dan tidak memiliki hikmah tidak mampu memahami bagai
mana menaati seorang manusia dari kalangan mereka sendiri, atau seseorang yang tidak lebih kaya daripada diri mereka sendiri. Namun, Allah telah memilih Rasul-rasul-Nya, menolong mereka dari sisi-Nya, dan memberikan kepada mereka ilmu dan kekuatan. Hakikat dari persoalan ini yang tidak mampu dipahami oleh orang-orang adalah bahwa Allah memilih siapa saja yang Dia kehendaki. Orang beriman yang ikhlas dengan sepenuh hati menaati dan menghormati orang yang telah dipilih Allah, lalu ia mengikutinya dengan sepenuh hati. Ia mengetahui bahwa jika ia menaati rasul, sesungguhnya ia menaati Allah. Orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan melaksanakan agama dengan demikian juga menyerahkan diri kepada rasul. Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Nya sebagai berikut:

“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat keba
jikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Q.s. al-Baqarah: 112).

Perbuatan Orang-orang yang Mening
gikan Suara Mereka Melebihi Suara Nabi Menjadi Terhapus:

Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, jangan
lah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalan-amal
anmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.s. al-Hujurat:: 2-3).

Rasulullah selalu menyeru orang-orang beriman kepada jalan yang lurus dan kepada kebaikan. Tentu saja ada saat-saat ketika seruan para rasul ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang diseru. Na
mun, orang-orang yang beriman dan menaati rasul tidak menuruti pikirannya sendiri, tetapi berserah kepada firman Allah, Rasul-Nya, dan al-Qur’an . Dalam pada itu, orang-orang yang imannya lemah, yang tidak dapat mengendalikan nafsu mereka menunjukkan kedurhakaan atau kelemahan terhadap seruan rasul. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, suara mereka, pembicaraan mereka, dan kata-kata yang mereka ucapkan, dapat mengungkapkan penyakit yang ada dalam hati mereka dan lemahnya mereka dalam ketaatan. Perbuatan mereka yang menentang apa yang dikatakan oleh Nabi dan sikap mereka yang meninggikan suaranya tersebut, sesungguhnya menunjukkan kebodohan mereka. Allah memberi tahu bahwa perbuatan orang-orang seperti ini akan menjadi terhapus. Allah menyatakan bahwa semua perbuatan orang seperti ini, sekalipun ia berusaha siang malam untuk menyebarkan agama,hanyalah sia-sia karena kedurhakaannya tersebut.
Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an. Allah telah memerintahkan manusia agar mengerjakan amal saleh, berjuang dengan sungguh-sungguh dan teguh untuk kepentingan Islam, bertingkah laku sesuai dengan akhlak mulia sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an , dermawan, sabar, menjaga perasaan orang lain, jujur, dan dapat dipercaya. Tidak diragukan lagi, semua ini merupakan bentuk ibadah yang penting yang akan mensyafaati orang yang melakukannya di akhirat kelak. Namun, sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Hujurat, satu sikap yang tidak menghormati Rasulullah dapat menyebabkan semua perbuatan orang itu sia-sia. Sekali lagi, hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya menaati dan menghormati Rasulullah.

Allah Mencabut Kekuatan Orang-orang
yang Tidak Menaati Rasul

Kisah tentang Thalut dan bala tentaranya yang diceritakan dalam al-Qur’an merupakan peringatan lain, yang sangat menekankan pentingnya menaati Rasulullah. Sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an , ketika Thalut memberangkatkan pasukannya untuk melawan musuh, ia memperingatkan pasukannya agar jangan minum air sungai yang akan mereka seberangi. Berikut ini adalah ayat yang menceritakan kisah tersebut:

“Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

Sebagaimana terlihat dari ayat tersebut, orang-orang yang tidak menaati perintah Thalut menjadi lemah, sedangkan orang-orang yang menaati Thalut diberi kekuatan oleh Allah, dan atas kehendak-Nya, mereka dapat mengalahkan musuh meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Ini merupakan rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an kepada manusia. Kekuatan, kemenangan, dan keunggulan tidak tergantung pada kekayaan materi, kedudukan yang bergengsi, jumlah yang banyak, atau kekuatan jasmani. Barang
siapa yang menjalankan perintah Allah, menaati Dia dan Rasul-Nya, Allah menjadi
kan mereka lebih kuat dibandingkan semuanya, dan Allah akan memberi pahala kepada mereka dengan karunia yang sangat banyak seperti hikmah, kekayaan, kebaikan, kenikmatan, dan kekayaan. Bagi orang-orang yang siap untuk mengikuti Rasulullah disediakan kenikmatan yang kekal abadi di akhirat kelak.

KELOMPOK MINORITAS ORANG BERIMAN DAPAT MENGALAHKAN ORANG KAFIR YANG JUMLAHNYA LEBIH BESAR

Salah satu mukjizat dari Allah yang diberikan kepada orang-orang yang beriman, meskipun mereka berjumlah sedikit adalah bahwa mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan Kehendak Allah. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah dalam beberapa ayat sehingga menjadikan orang-orang kafir tertipu. Sebagaimana dapat dilihat dalam kisah tentang Thalut, Allah menjadikan orang-orang beriman memperoleh kemenangan karena ketaatan mereka, meskipun mereka berjumlah sedikit. Allah mengakhiri kisah tentang Thalut dengan kata-kata sebagai berikut:

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Baqarah: 249).

Dengan Bersabar, Orang-orang Beriman
akan Memperoleh Kekuatan Besar

Sebagaimana sering kali ditekankan dalam buku ini, terdapat banyak rahasia yang tersembunyi dalam berbagai ayat al-Qur’an. Salah satu di antara rahasia-rahasia tersebut adalah tentang kesabaran. Allah memberikan kabar gembira bahwa orang-orang yang bersabar akan semakin kuat. Ingatlah bahwa semua kekuatan adalah milik Allah. Bahkan kekuatan orang yang menentang Allah sesungguhnya juga milik Allah. Allah memberikan berbagai macam kemampuan kepada orang-orang untuk menguji mereka dan orang-orang di sekeliling mereka. Demikian pula, Dia dapat mengambil dengan mudah sebagaimana Dia dapat memberikan dengan mudah apa saja yang Dia kehendaki. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang bersabar akan menjadi kuat, yakni Dia akan memberikan kekuatan kepada mereka. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

“Ya, jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (Q.s. Ali Imran: 125).

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, jika Allah menghendaki, Dia dapat memberikan kemenangan kepada orang-orang dengan cara yang tak terlihat. Dalam usaha untuk memperjuangkan agama Allah misalnya, Allah dapat memberikan pertolongan yang tak terlihat sehingga memungkinkan seseorang bicaranya sangat berpengaruh dan membuat hati orang-orang yang mendengarkannya berpaling kepada agama. Dengan demikian, tak seorang pun yang dapat memperoleh kemenangan atau mempengaruhi orang lain, kecuali jika Allah menghendakinya. Pemilik semua kejayaan, kemenangan, dan pengaruh adalah Allah. Apa yang harus dilakukan oleh manusia adalah menaati perintah Allah dan melaksanakan ketentuan-ketentuan-Nya. Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu orang-orang yang beriman cara memperoleh kekuatan besar:

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan jika ada seratus orang diantaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika diantaramu ada seribu orang, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Anfal: 65-6).

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat tersebut, jika orang-orang beriman tidak memiliki kelemahan dalam diri mereka, dan mereka teguh, sabar, dan yakin, maka kekuatan satu orang beriman adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam hal ini, perkataan “kekuatan” memiliki pengertian lain yang bukan sekadar kekuatan fisik. Misalnya, kekuatan seorang beriman yang menyampaikan pesan agama dan menyeru manusia ke jalan Allah adalah sama dengan kekuatan sepuluh orang. Dalam pada itu, pengetahuan seorang yang beriman dapat menyamai pengetahuan sepuluh orang. Perbuatan baik seorang beriman yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah dapat menyamai perbuatan yang dilakukan sepuluh orang. Seorang yang beriman dapat menyeru sepuluh orang kafir yang tersesat kepada jalan Allah yang benar dan dapat menjadi asbab bagi perbaikan iman mereka. Seorang yang beriman dapat menghancurkan kekafiran orang kafir dan menggantinya dengan kebenaran.
Rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an ini sangat penting. Hal ini karena jika semua orang Islam saling berlomba-lomba di jalan yang benar, betapapun kecilnya jumlah mereka, Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka dalam setiap urusan yang mere
ka lakukan. Misalnya, jika orang di seluruh dunia ini berkumpul yang terdiri dari orang-orang kafir, dan profesor-profesor kafir dari seluruh dunia yang memimpin semua orang di setiap negara agar menjadi kafir, maka Allah cukup mengirim sekelompok kecil orang-orang Muslim yang kuat, bertanggung jawab, dan cukup bijak untuk menunjukkan kepada orang-orang tersebut jalan yang benar. Allah memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman dalam setiap urusan mereka dan membuat berbagai urusan menjadi sulit bagi orang-orang kafir. Untuk itulah, orang-orang beriman yang mengetahui rahasia ini jangan sampai meremehkan usaha mereka dan mengatakan, “Mungkinkah usaha kita ini dapat membawa perubahan terhadap situasi seperti ini?” Tetapi sebaliknya mereka yakin bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan yang ikhlas, yang dilakukan semata-mata untuk mencapai ridha-Nya tersebut dengan hasil yang baik. Sebaris tulisan tentang keberadaan Allah, sepatah kata yang menyeru manusia kepada Allah, atau suatu perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran al-Qur’an dapat saja membawa manusia kepada keselamatan dan membangkitkan perasaan cinta dan takut kepada Allah dalam diri mereka. Perlu kita camkan bahwa hukum-hukum dan fenomena sebab dan akibat yang berlaku di dunia ini hanyalah berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an. Siapa pun yang berpikirnya sesuai dengan al-Qur’an dapat memahami rahasia-rahasia dalam ciptaan Allah ini, dan dengan kehendak Allah, akan memperoleh kekuatan yang lebih unggul dan hikmah melebihi apa yang dapat dicapai oleh orang lain. Allah memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan mengalahkan orang-orang kafir jika mereka teguh keimanannya:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 139).

Sebagaimana dapat dibaca pada ayat di atas, persyaratan yang diperlukan agar memperoleh kemenangan dan ketinggian, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak adalah keimanan yang ikhlas. Rahasia lain yang diungkapkan dalam al-Qur’an dalam masalah ini adalah beriman dengan tidak menyekutukan Allah.

ALLAH MENJADIKAN AGAMANYA TINGGI
JIKA ORANG-ORANG HANYA MENYEMBAH DIA SAJA

Salah satu tujuan terpenting bagi seorang Muslim dalam hidup ini adalah mendakwahkan ajaran-ajaran al-Qur’an ke seluruh dunia, sehingga orang-orang dapat menyembah Allah sebagaimana yang seharusnya. Dalam al-Qur’an, Allah telah menunjukkan kepada orang-orang beriman jalan untuk mencapai tujuan ini, dan Dia memerintahkan sebagai berikut:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.s. an-Nur: 55).

Berdasarkan rahasia Allah yang diungkap
kan kepada orang-orang beriman, Allah akan meneguhkan nilai-nilai al-Qur’an di seluruh dunia jika orang-orang beriman dan hanya menyembah Allah, tanpa menyekutukan-Nya. Ini merupakan rahasia yang sangat penting, karena hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya merupakan tanggung jawab setiap orang beriman untuk mendakwahkan ajaran al-Qur’an kepada manusia. Dengan demikian setiap orang beriman yang memiliki hati nurani harus menjauhkan diri dengan sungguh-sungguh dari menyekutukan Allah dan hanya menyembah-Nya. Dibandingkan hal-hal lainnya, menyekutukan Allah merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah dan orang yang melakukannya akan dimasukkan ke dalam neraka. Bagaimanapun, tampaknya sebagian besar manusia terlibat dalam ajaran-ajaran orang musyrik yang menyembah berhala. Manusia harus waspada terhadap “kemusyrikan yang tersembunyi”. Dalam bentuk kemusyrikan seperti ini, orang tersebut menyatakan beriman kepada Allah, mengakui Allah itu satu, Allah Yang Menciptakan, dan Yang wajib ditaati. Tetapi, ia juga takut kepada makhluk selain Allah, menganggap persetujuan dan dukungan orang lain lebih penting, menganggap bahwa perdagangan, keluarga, dan anak cucu lebih penting daripada Allah dan berjuang di jalan-Nya, sesungguhnya semua ini merupakan bentuk kemusyrikan yang nyata. Keimanan yang benar sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur’an adalah memandang bahwa keridhaan Allah adalah di atas segala-galanya. Mencintai makhluk lain selain Allah hanyalah sebagai asbab untuk mencari keridhaan-Nya. Orang-orang yang merasa berutang budi kepada manusia yang telah memberi sesuatu kepada mereka, yang memandang manusia sebagai pelindungnya, sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik. Hal ini karena Yang memberi rezeki hanyalah Allah, Yang memberi makan, menolong, dan melindungi setiap makhluk hidup dan menyembuhkan orang yang sakit, hanyalah Allah. Jika Allah menghendaki, Dia dapat menyembuhkan orang yang sakit melalui tangan seorang dokter. Dalam hal ini, sungguh tidak masuk akal jika seseorang menumpukan harapannya hanya pada dokter. Karena, tak seorang dokter pun yang dapat menyembuhkan pasiennya kecuali jika Allah menghendaki. Seseorang yang melihat kesehatannya membaik harus melihat, bahwa dokter itu sebagai orang yang dipakai tangannya oleh Allah untuk menyembuhkannya, sehingga ia akan menghormati dokter itu dengan semestinya. Namun, karena ia mengetahui bahwa sesungguhnya yang menyembuhkan adalah Allah, maka hanya kepada Allah saja ia harus bersyukur. Jika tidak demikian, berarti ia telah menyekutukan Allah dan menganggap sama sifat Allah dengan sifat manusia. Semua Muslim harus menjauhi dengan sungguh-sungguh syirik yang tersembunyi ini, dan jangan sampai menjadikan penolong dan pelindung selain Allah.

KEHIDUPAN DUNIA INI SANGAT SINGKAT

Sebagian besar manusia sangat mencintai dunia ini seakan-akan mereka tidak akan pernah mati, sehingga mereka menjauhi kehidupan agama, tidak ingat mati dan akhirat. Padahal, kehidupan dunia yang sangat mereka cintai ini sesungguhnya sangatlah singkat dan sementara. Bahkan orang-orang yang umurnya sangat panjang pada suatu saat pasti akan menghadapi kematian. Di samping itu, kehidupan dunia ini sesungguhnya tidaklah sebagaimana yang tampak. Allah mengungkapkan rahasia ini kepada manusia dalam beberapa ayat al-Qur’an:

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lama
nya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menja
wab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.s. al-Mu’minun: 112-15).

“Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak berdiam melainkan sesaat, seperti itulah mereka selalu dipalingkan dari kebenaran.” (Q.s. ar-Rum: 55).

Percakapan di atas adalah percakapan antara orang-orang yang dikumpulkan untuk dihisab. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam percakapan tersebut, setelah mati orang-orang menyadari bahwa sesungguhnya mereka tinggal di dunia hanya sebentar. Yaitu, waktu yang tampaknya enam puluh atau tujuh puluh tahun dalam kehidupan dunia ini, sesungguhnya sama singkatnya dengan satu hari, atau bahkan lebih singkat lagi. Hal ini bagaikan kisah seseorang yang menganggap bahwa ia telah menghabiskan beberapa hari, bulan, atau bahkan beberapa tahun dalam mimpinya, tetapi setelah bangun baru menyadari bahwa mimpi tersebut hanya berlangsung selama beberapa detik.
Dengan bertafakkur, orang akan dapat memahami betapa singkatnya dan betapa sementaranya kehidupan dunia ini. Misalnya, setiap orang membuat rencana yang jelas dan menetapkan beberapa tujuan dalam hidupnya. Rencana-rencana ini merupakan tujuan yang tidak pernah berakhir. Antara keduanya saling mengikuti. Demikian pula orang yang baru lulus dari SLTA, lalu masuk ke Pergu
ruan Tinggi, lalu bekerja di sebuah perusahaan. Betapapun, semua ini merupakan pengalaman yang bersifat sementara. Ketika muda, orang hampir-hampir tidak dapat membayangkan ia akan berumur tiga puluh tahun. Tetapi tahu-tahu ia telah berumur empat puluh tahun.
Singkatnya kehidupan dunia ini merupakan kepastian dari Allah yang diungkapkan dalam al-Qur’an, yang dapat dipahami oleh siapa pun sebelum mati. Bagi orang yang memahaminya, betapa bodohnya jika ia mengabaikan kehidupan yang nyata dan tidak berakhir di akhirat, hanya untuk mengejar kehidupan yang singkat dan sementara ini. Sebagian di antara ayat-ayat, yang di dalamnya Allah mengingatkan manusia tentang singkatnya kehidupan dunia adalah sebagai berikut:

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Q.s. Ghafir: 39).

“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia yang sementara dan mereka tidak mempedulikan hari yang berat.” (Q.s. al-Insan: 27).

ALLAH MEMASUKKAN RASA TAKUT KE DALAM HATI ORANG-ORANG KAFIR

Allah menyatakan dalam beberapa ayat bahwa Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati orang-orang kafir:

“Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang telah beriman.’ Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (Q.s. al-Anfal: 12).

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.s. al-Hasyr: 2).

Apa yang diceritakan dalam ayat-ayat tersebut merupakan mukjizat dari Allah. Dengan cara memasukkan perasaan takut ke dalam hati mereka, Allah menghilangkan kekuatan orang-orang yang menentang orang-orang beriman dan yang menolak Allah dan agama-Nya. Sangatlah penting agar orang-orang beriman merenungkan ayat-ayat ini dan mengambil pelajaran bagi diri mereka. Hal ini karena — sebagaimana disebutkan pada bab-bab terdahulu — hati kita berada di tangan Allah, dan Allah memasukkan apa saja ke dalam hati, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tugas orang-orang beriman bukanlah berusaha untuk menciptakan pengaruh kepada orang lain, tetapi hanya supaya ikhlas. Misalnya, seorang beriman memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan seseorang berdasarkan ayat-ayat Allah. Namun, orang itu hanya akan memperoleh hidayah dari nasihat yang diberikan — betapapun penjelas
annya itu sangat terang — Allah membimbing orang itu ke jalan yang benar. Dengan penjelasan tersebut, seorang beriman tidak berdaya menghadapi bahaya. Demikian pula, ia tidak mempunyai kekuatan untuk menjadi
kan musuh ketakutan. Tetapi Allah melindungi dan menolong orang-orang beriman yang ikhlas dan dalam melakukan usahanya hanya untuk mencari ridha Allah. Misalnya, sebagaimana dikatakan dalam ayat di atas, Dia memasukkan perasaan takut ke dalam hati musuh, dan menjadikan mereka terjerumus dalam kesulitan mereka sendiri. Dengan cara inilah Allah memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang beriman.
Allah memasukkan berbagai ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir seperti takut mati, takut masa depan, takut terluka, takut akan bencana, atau takut kehilangan harta. Demikian pula, mereka takut mati karena tidak mempercayai akhirat dan sangat mencintai dunia. Meyakini bahwa ia akan lenyap dan kehilangan semua kekayaannya, ketakut
an terhadap mati semakin besar. Pada akhirnya, rasa takut ini berkembang menjadi sakit.
Allah menceritakan kepada kita bahwa rasa takut tersebut dimasukkan ke dalam hati orang-orang kafir karena mereka menyekutukan Allah. Kesudahan orang-orang seperti ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (Q.s. Ali Imran: 151).

Entry filed under: ad-dien. Tags: .

Rahasia Al-Qur’an (2) Rahasia Al-Qur’an (6)

1 Komentar Add your own

  • 1. gavienharrys  |  Januari 19, 2015 pukul 4:37 pm

    nice,
    http://rahasiailmuqurani.blogspot.com/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

Januari 2010
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rated

Blog Stats

  • 33,851 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: