Ka’bah Universal Time

Oktober 13, 2008 at 5:15 pm Tinggalkan komentar


Ka’bah Universal Time
Reinventing the missing Islamic time sistem


MUHAMMAD SARDJONO/MAX 10/13/2008 10:09 AM
To : Nuralih nuralih/MAX,
Subject : KUT

 

 

 

 
Assalaamu ‘alaykum wa rohmarulloohi wa barokaatuh.
Bila perubahan tanggal adalah di Ka’bah dapatkah dikatakan perubahan hari juga di Ka’bah?
Jazaakalloohu khoyro atas tanggapannya.
Wassalaamu ‘alaykum wa rohmatulloohi wa barokaatuh.

 
Nuralih Nuralih/MAX 13/10/2008 13:43
To : MUHAMMAD SARDJONO/MAX, AGUS SANTOSO/MAX
Subject : Re: KUT

Wa alaikum sallam
Ada artikel di internet dari Bambang Sarkoro

Ka’bah Universal Time
Reinventing the missing Islamic time sistem
Sebuah buku menarik karya Bambang E. Budhiyono berjudul KUT (Ka’bah Universal Time), atau di terjemahkan dengan judul yang lebih “gagah” REINVENTING THE MISSING ISLAMIC TIME SYSTEM.
Dalam buku ini menjelaskan Time System yang belaku sekarang menggunakan Kalender Gregorian yang pupoler disebut kalender Masehi dengan pola peredaran bumi mengelilingi matahari.
Sebenarnya Islam telah memiliki time system sendiri yang merupakan gabungan pola Qamariyah dan syamsiah yang lebih dikenal dengan sistim kalender Hijriah.

{ Kami (Orang Jawa) sebenarnya sudah memiliki sistem kalender Jawa yang memiliki pola yang sama dengan sistim kalender Islam. Dan Sultan Agung Hanyakrakesuma menggabungkan sistem kalender Islam dengan sistim kalender Jawa }
Sungguh amat disayangkan bahwa *kekayaan* ini banyak dilupakan orang (Jawa – Islam). Sehingga tidak banyak lagi *warga negara* mengetahui tentang system waktu Jawa-Islam.

Dalam kalender Gregorian (Masehi), membagi waktu dunia menjadi dua bagian dengan menetapkan garis tanggal international 0* pada Greenwich dan 180* pada selat Bosporus (antara Rusia Canada). Penggantian Tanggal harian ditetapkan pada jam 00:00 pada Meridian 180*.
Penetapan garis tanggal International diprakarsai oleh Stanford Fleming (Canada) dan Charles F Down (Amerika) pada tahun 1883 dan disyahkan sebagai sistim tata waktu international dalam suatu konvensi pada tahun 1885. Maka sejak saat itu dunia *terbelah dua* dengan latitude 0* ~ +180* sebagai Bujur Timur dan 0* ~ -180* sebagai Bujur Barat. Maka sejak itu kita mengenal negara-negara Barat dan Negara-negara Timur.

Dalam proyeksi perjalanan matahari dari Timur ke Barat, maka negara negara y ang berada pada merian 0* ~ +180* akan mendahului 1 hari dibandingkan dengan negara-negara Barat yang ada pada meridian 0* ~ -180*. Lalu apa akibatnya ?
Ka’bah yang terletak pada meridian +40* BT dan Indonesia yang terbentang dari meridian +94* ~ +141* BT (bujur Timur) memiliki selisih waktu 4 ~ 6 Jam (15* meridan per jam). Dimana Indonesia (jakarta) mendahului 4 jam lebih awal dibandingkankan waktu di Ka’bah (Mekkah). Sehingga (misalnya) kita melakukan Shalat Ied pada pagi hari jam 7:00 maka Umat muslim di Mekkah masih melakukan Takbir atau masih ada yang terlelap tidur (jam 3:00 dinihari.) Jika mengacu pada QS Al Imran ayat 96
“Inna Awwala baitin wudi’a linnasi lallazina bibakkata mubarakhan wahudan lil ‘alamnin”.
{sesungguhnya rumah mula-mula dibangun untuk (tempat ibadat) manusia, ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bag i semua umat manusia).
Dan bilamana surat diatas kita gandeng dengan Surat Al Hujurat ayat 1 (QS 49:1) “Ya ayyuhal ladzina aamanu tuqqadimu baina yadayillahi wa rasuullihi wattaqullaha innallaha sami’un ‘aliim.
(Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan mengetahui).
maka secara jelas bahwa umat muslim yang berada disebelah timur Mekkah (meridian > 40* BT ~ 180* BT) MENDAHULUI melakukan ibadah Maddah dan bertentangan dengan sunnah Rasul.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir , Ibnu Abu Dunya meriwayatkan pada kitab Al Adhahi, dimana Rasullulah membatalkan ibadah penyembelihan hewan Qurban karena mereka melakukan penyembelihan hewan Qurban sebelum Rasulullah melakukanya. Dan memerintahkan mereka mengulangi penyembelihan Hewan Qurban setelah beliau melakukan penyembelihan. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Tabhrani dalam kitab Al Ausath.
Jelasnya kita bisa terkecoh, manakala Kalender Gregorian (Masehi) sebagai petunjuk tanda waku ibadah Maddah karena kita akan selalu mendahului menjalankan shalat sebelum Shalat yang sama dilakukan di Baitullah Mekah pada hari yang sama

Bersambung pada bagian ke 2

Wassalam
Bambang Sarkoro
————–
Ka’bah Universal Time (2)
Reinventing the missing Islamic time sistem

Seperti yang dijelaskan oleh penulis buku ini (Bambang E. Budhiyono). Bahwa KUT tidak membagi tanggal international menjadi menjadi dua bagian (timur dan Barat). Tetapi dengan menggeser Garis waktu penggantian tanggal 180* meridian ke 40* BT. dan ditetapkan sebagai 0* meridian Ka’bah UT. Dan penggantian tanggal tidak lagi pada jam 00:00 tetapi pada jam 18:00, sebagimana layaknya orang Jawa yang menyatakan bahwa (misal) hari Kamis Sore jam 18:00 adalah malam Jum’at / awal Jum’at). Atau biasa kita menyebut sabtu petang sebagai Malam Minggu. Yang lebih menitik beratkan pada faham tata waktu Jawa.

Struktur meridian tidak lagi dibelah menjadi dua arah tetapi menjadi satu arah mengikuti garis edar matahari dari kiri ke kanan, dimana posisi Greenwich (GMT) terletak pada -40* KUT dan posisi Indonesia / Jakarta menj adi -294* KUT di belakang merdian Ka’bah (Mekkah) atau 19 Jam dibelakang Ka’bah (selisih satu hari dibelakang garis waktu Ka’bah).
pada saat di Mekkah melaksanakan Shalat Maghrib 18:30 GMT tanggal 1 Agustus, maka di Jakarta masih jam 22:30 malam GMT tanggal 31 Juli menjelang Subuh. Dengan demikian tidak lagi mendahului melakukan shalat maghrib untuk tanggal 1 Agustus.

Disadari bahwa memang sulit dipahami secara selintas tanpa membiasakan diri dengan dengan konversi waktu GMT ke KUT yang banyak dipakai oleh para orang tua Jawa dalam menunaikan ibadah Madhah. Adaptasi terhadap perubahan garis waktu dari jam 00:00 maju selama 6 jam ke jam 18:00 bukanlah persoalan yang gampang. Karena ini bukan lagi bersifat sekedar transformasi linear pergeseran meridian yang mengubah tatanan dunia yang telah mapan dan dipakai ratusan tahun. Tetapi lebih bersifat mengembalikan kepada fitrah alam dimana pergerakan alamiah adalah dari kanan ke kiri.
Kanan dikatakan sumbu positip dan kiri sumbu negatip. Yang oleh ilmu pengetahuan sampai sekarang diakui sebagai kebenaran haqiqi.

Lihatlah Thawaf berputar dari kanan kekiri, Bumi berputar dari kanan ke kiri (proyeksi tehadap matahari), Balap mobil, atletik maupun balap sepeda di velodrome semuanya berputar dari arah kanan kekiri. Ini semua bukan hanya kebetulan tetapi telah dipertimbangkan oleh para akhli (pemikir-pemikir) bahwa menentang fitrah alam adalah bentuk “pemberontakan” terhadap sesuatu yang Haq yg menentang energi metafisis.

Penulis buku mengingatkan kita agar kita dapat segera menyadari bahwa dalam beribadah bukan hanya sekedar ikut-ikutan atas aturan yang sudah ada, tetapi lebih menitik beratkan pada kebenaran yang Haq yaitu tidak mendahului seperti yang telah diriwayatkan oleh para ahli hadist / sunnah Rasul.
Buku setebal 103 Halaman menerangkan dengan sangat gamblang *rahasia kalender* dan titik lemah alman ak Grogorian terhadap keabsahan ibadah umat muslim

Wassalam
Bambang Sarkoro
——————————
SUMBER:
<http://www.margaluyu-pusat.net/kut.htm >dan
http://www.margaluyu-pusat.net/kut2.htm

MUHAMMAD SARDJONO/MAX
10/13/2008 03:43 PM
To : Nuralih nuralih/MAX,
cc : AGUS SANTOSO/MAX@IND_LN
Subject : KUT
Terimakasih atas responsnya.
Muncul lagi pemikiran sbb:
Statement bahwa posisi Indonesia / Jakarta menj adi -294* KUT di belakang merdian Ka’bah (Mekkah) atau 19 Jam dibelakang Ka’bah (selisih satu hari dibelakang garis waktu Ka’bah) ini membawa akibat Indonesia atau Jakarta melakukan sholat jumat pekan ini pada tanggal 18 Oktober 2008 hari Sabtu almanak Gregorian. Ini pasti membuat gempar dunia Islam mulai dari laut Hitam (Kaspia revisi), Pakistan, India,Cina ke New Zealand.
Bagaimana komentar anda?
Wasallam,

Nuralih Nuralih/MAX
13/10/2008 19:35
To : MUHAMMAD SARDJONO/MAX
cc : AGUS SANTOSO/MAX@IND_LN
Subject : Re: KUT

Assalammualaikum ..

Itu belum seberapa Pak. Yang lebih gempar lagi kalaulah memang KUT adalah yang benar
ternyata selama ini kita tidak pernah sholat jum’at karena sholatnya hari kamis.
Penentuan hari Jum’at pada waktu itu dengan GMT menurut saya memang sudah optimal
Sistem sekarang dengan pergantian hari di garis tanggal di Pasifik Pemisahan hari terjadi di wilayah yang terpisah luas oleh lautan. Jadi hari Jumat berawal dari Pasifik Barat, lalu ke Asia Timur & Australia, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Eropa & Afika, berakhir di benua Amerika. Shalat Jumat dilakukan sesudah tengah hari menurut waktu lokal. Soal pergantian hari sejak maghrib, tidak masalah, karena itu hanya mengikuti pada penentuan awal tanggal yang bermula saat rukyatul hilal saat maghrib

Tetapi kami berharap para ulama dan ilmuwan islam mencari jalan semua ini untuk kepentingan manusia yang lebih baik dan Universal
Ya kita ikuti saja informasi perkembangannya
Insya Alloh pasti ada jalan keluar semua ini.
Nuralih
IT & Comm
Phone Direct +62 21 515 9961
Email: nuralih_nuralih@cnooc.co.id

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

Entry filed under: ad-dien. Tags: .

Tidak dapat di Uninstall EMC Technical Bulletins

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calender

Oktober 2008
S S R K J S M
    Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Top Rated

Blog Stats

  • 33,851 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

%d blogger menyukai ini: